Battlefield 2042 Review: Perang Modern yang Seru, Tapi Masih Perlu Banyak Perbaikan

Bayangkan konser rock epik dengan panggung megah dan kembang api, tapi sound system-nya kedap-kedip. Kira-kira begitu lah rasanya main Battlefield 2042 di 2025. Game besutan DICE ini ibarat kendaraan perang futuristik: keren di luar, mesinnya sering ngebul.

Kekacauan yang (Kadang) Menyenangkan

Mari mulai dari yang positif. Pertempuran 128 pemain di map seluas Doha atau Kaleidoscope itu beneran next-level. Pasukan berhamburan dari helikopter, tank meledakkan gedung pencakar langit, sementara tornado raksasa mengamuk di kejauhan – ini mah cinematic moment yang cuma Battlefield bisa sajikan.

Destruksi lingkungan pun tetap jadi bintang. Coba hancurkan dinding gudang dengan RPG, lalu sergap musuh yang kabur keluar – pure dopamine. Sayangnya, AI bot masih sering nge-freeze kayak patung di museum.

Dosa Teknis yang Bikin Gigit Jari

Tapi jangan salah, Battlefield 2042 bukan tanpa masalah. Di bulan-bulan awal rilis, bug di sini lebih banyak daripada tentara di mode Breakthrough. Dari hitbox yang ngaco (“kok tembak kepala nggak mati-mati?”), sampai glitch texture yang bikin karakter mirip zombie tanpa kulit.

Masalah balancing juga nyebelin. Senjata PP-29 di Season 1 itu overpowered banget sampe dijuluki “Noob Tube 2.0“. Untungnya, update terakhir udah ngeredam meta yang itu-itu aja.

Mode Portal: Nostalgia yang (Hampir) Sempurna

Inilah penyelamat utama game ini. Mode Portal memungkinkan kita main di map klasik seperti Battle of the Bulge (BF1942) atau Arica Harbor (Bad Company 2) dengan mekanik modern. Sayangnya, kontennya masih terbatas. Kapan nih DICE ngasih map BC2 lengkap?

Sistem Specialist: Inovasi atau Kemunduran?

Ganti sistem kelas tradisional dengan specialist ala Rainbow Six itu kontroversial. Karakter seperti Sundance dengan sayap glider-nya emang fun, tapi lama-lama terasa kayak hero shooter murahan. “Ini Battlefield atau Valorant?” celetuk salah satu player di Reddit.

Verdict: Untuk Siapa Game Ini?

Kalau kamu fans berat seri Battlefield yang rela grinding XP sambil sabar nunggu patch, 2042 layak dicoba. Tapi buat pemula? Mending main dulu Battlefield 1 atau BF4 yang lebih polished.

Rating: 7/10
“Seperti tornado di dalam game – spektakuler, tapi sering bikin kesasar sendiri.”


Penutup:
Dari dinamika cuaca ekstrem sampai pertempuran skala MMO, Battlefield 2042 punya dasar yang solid. Tapi kayak pasukan tanpa komandan, game ini masih bingung mau fokus ke mana. EA dan DICE perlu kerja lembur biar war fans nggak pada kabur ke game saingan!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *